Warga Chile Kesusahan Dapat Sembako Karena Kerusuhan

Kerusuhan yang mana dipicu oleh aksi demonstrasi yang terjadi di Chili memasuki hari kelimanya. Kondisi tersebut pasalnya dinilai mulai menyulitkan masyarakat karena mereka mulai kesusahan mendapat bahan makanan dan juga bahan bakar dan kekhawatiran harta benda mereka akan dijarah. 

Mulai Menyusahkan Penduduk Dapatkan Sembako

Seperti yang dilansir dari CNN Indonesia pada hari Rabu (23/10) kemarin, sampai dengan saat ini tercatat sudah ada korban tewas dalam insiden kerusuhan di Chile. Korban tewas tersebut mencapai 15 orang. Pemerintah setempat kemudian memutuskan untuk menetapkan status darurat nasional pada 8 dari 16 provinsi di negara tersebut. 

Mereka pun menerapkan jam malam selain di luar situasi bencana alam. Hal ini memang menjadi yang kali pertamanya setelah negara tersebut kembali lagi menerapkan demokrasi pada tahun 1990 silam, pasca melewati fase diktator berdarah selama 17 tahun yang mana dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinochet. 

Pada saat itu militer akhirnya mengkudeta pemerintahan yang dipimpin oleh Salvador Allende pada tanggal 11 September 1973. 

Demonstran dan juga polisi masih terlibat bentrokan pada sejumlah wilayah. Sementara penjarah-penjarah menyerbut toko-toko di Ibu Kota Santiago dan juga kota-kota yang lainnya tak luput dari penyerbuan itu. Polisi dan tentara pasalnya ditugaskan untuk menjaga sejumlah gerai swalayan. Hal tersebut membuat masyarakat setempat kesulitan membeli kebutuhan pokoknya. 

“Saya sudah berjalan beberapa kilometer untuk mencari susu, namun swalayan besar tetap tutup dan toko yang ada di dekat rumah saya sudah kehabisan stok,” ungkap Carmen Fuentealba, salah seorang warga. ‘

Sejumlah toko, lalu stasiun kereta bawah tanah dan juga bank hangus karena dibakar oleh massa. Sebagian lainnya lagi rusah karena dijarah.warga Chile juga mengaku bahwa mereka juga kesulitan menarik uang lewat mesin anjungan tunai mandiri. Situasi yang terpantau adalah adanya antrean mengular untuk membeli bahan bakar yang terjadi di banyak stasiun pengisian bahan bakar. 

Situasi yang makin memburuk ini juga membuat kegiatan usaha dan kerja terhenti. Selain itu, diperkirakan juga 2 juta pelajar dan juga mahasiswa tak bisa melangsungkan kegiatan belajar mengajar karena seluruh lembaga pendidikan ditutup sementara waktu. 

Tuntutan Masyarakat Chile Akhirnya direspon

Gejolak yang terjadi di Chile ini dipicu oleh kenaikan tarif transportasi umum, khusus di jam-jam sibu sebesar US$1,17 atau setara dengan Rp. 16 ribu. Padahal pada bulan Januari 2019 lalu, ongkos transportasi umum di sana juga sudah dinaikkan. Sehingga masyarakat merasa tidak terima dengan keputusan sepihak dari pemerintah ini. 

Alasan dari pemerintah sendiri adalah karena kenaikan bahan bakar minyak dan juga nilai tukar Peso yang terus melemah.

Tidak hanya itu, masyarakat Chile juga pasalnya mengkritik pemerintah karena melambatnya pertumbuhan ekonomi. Mereka mendesak pemerintah mengubah undang-undang perpajakan, jaminan pensiun dan tenaga kerja. 

Presiden Sebastian Pinera akhirnya memutuskan untuk membatalkan kenaikan tarif transportasi umu. Ia juga berencana menaikkan tunjangan pensiun, juga upah minimum regional. Tak cuma itu, ia juga menunda kenaikan tarif dasar listrik. 

Namun di sisi lainnya, Pinera pun berencana menaikkan pajak bagi orang-orang yang memiliki penghasilan di atas US$11 ribu (setara dengan Rp. 154 juta). langkah tersebut yang diharapkan oleh masyarakat dan dunia internasional bisa meredam amarah massa. Jika konfilk kericuhan ini masih terus terjaid bukan tidak mungkin Chile akan menghadapi keadaan yang jauh lebih buruk. 

Anarkis Demo Kota Chile Pembagian Sembako

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*